Terkait dengan tradisi fatwa, pada dasarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shalallaahu `alaihi wa sallam. Dalam hal ini, para sahabat mengajukan sebuah persoalan kepada Nabi, namun jawaban dari Nabi ternyata tidak selalu sama. Sebagai contoh, ketika seorang sahabat bertanya tentang amalan apa yang paling utama?. Nabi Shalallaahu `alaihi wa sallam menjawab jihad. Di lain kesempatan jawaban dari Nabi lain lagi, yang paling utama yaitu shalat tepat waktu atau berbakti kepada dua orang tua misalnya. Hal ini menunjukkan adanya fleksibilitas fatwa.

Atas dasar ini, al-Imam al-Qurafi dalam kitabnya al-Faruq mengungkapkan makna dan hakikat fatwa. Menurutnya, pengertian fatwa adalah penjelasan hukum suatu persoalan berdasarkan pada kacamata syari`at dari seorang Mufti (pemberi fatwa) kepada Mustafti (peminta fatwa).

Secara spesifik yang berkaitan dengan tumbuhan tembakau atau rokok yang kemudian dikenal dengan nama al-Dukhan, rupanya baru dikenal pada akhir abad kesepuluh Hijriah. Dan semenjak digunakan oleh manusia, para ulama pada zaman itulah mulai sibuk berfatwa membicarakan mengenai tinjauan hukumnya. Dan tentunya sejak itu pula telah menghasilkan fatwa tentang rokok ini dengan hasil fatwa yang berbeda diantara ulama. Fatwa “haram rokok” sebenarnya tidak kontroversial sebagaimana fatwa-fatwa ulama pada umumnya.

Namun, yang kontroversi adalah respons masyarakat terhadap fatwa tersebut yang kemudian di-blow up oleh media terutama media elektronik. Akibatnya, bisa merugikan pihak yang mengeluarkan fatwa. Dalam hal ini, sebagai contoh Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang kemudian berimbas pada persyarikatan Muhammadiyah misalnya. Oleh karena itu, pada seminar Dosen STAI Al-Aqidah AL-Hasyimiyyah kali ini, perlu kita lakukan semacam analisis terhadap fatwa tersebut secara proporsional dari perspektif ilmu Ushul Fiqih agar semua pihak dapat menanggapinya secara dewasa dan tidak emosional.

Dalam makalah singkat pada seminar dosen dan mahasiswa ini, penulis akan mencoba menganalisis fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dari perspektif ilmu Ushul Fiqih. Dalam makalah sederhana ini, uraiannya meliputi pendahuluan, timbulnya fatwa, karakteristik fatwa, kedudukan fatwa, analisis fatwa haram rokok dan diakhiri dengan penutup.

 

Download Artikel PDF