Shofiatuddin dan Emansipasi Perempuan

Shofiatuddin dan Emansipasi Perempuan

Setiap tanggal 21 April, negara kita selalu memperingati Hari Kartini. Tanggal ini mengacu kepada kelahiran tokoh perempuan asal Jepara. Harsja W. Bachtiar (guru besar Sosiologi dan Sejarah Masyarakat Universitas Indonesia) di dalam buku untuk memperingati satu abad Kartini, meyakini ada peran perempuan selain sosok Kartini dalam emansipasi perempuan di Indonesia (Aristides Katoppo: 1979: 72).

Sosok Rahmah Al-Yunusiah (1900-1969), seorang tokoh pemberdayaan perempuan di Sumatera Barat, yang juga menjadi Syaikhah (Profesor) pertama di Universitas Al-Azhar, Mesir, turut berperan dalam dunia pendidikan. Di daerah yang sama, ada juga Hajjah Rangkayo Rasuna Said (1910-1965), tokoh aktivis yang berjuang secara lisan dan tulisan melawan penjajah, yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di Kuningan, Jakarta.

Seakan terselimuti oleh kain panjang, perjuangan perempuan-perempuan Indonesia tertutupi oleh kebesaran RA Kartini. Padahal masih banyak perempuan hebat yang berjasa atas berdirinya bangsa ini, mereka berjuang susah payah melawan penjajahan Belanda, bahkan sampai mereka hidup diasingkan dari daerah asalnya. Cut Nyak Dien (1848-1908), adalah contoh pejuang perempuan Aceh, yang tak kenal lelah mengangkat senjata, bergerilya dari hutan ke hutan hingga ia diasingkan ke Sumedang, sampai akhir hayatnya.

Tokoh perempuan karismatik asal Aceh lainnya, Sultanah Shofiatuddin, mungkin kurang familiar di telinga kita, tetapi jasanya tidak diragukan lagi, ia adalah warna dari Kesultanan Aceh Darussalam, yang memimpin selama 35 tahun 8 bulan 26 hari (1641-1676), (Bustan al-Salatin: ML 244). Lamanya berkuasa, bahkan melebihi umur Kartini (25 tahun), rasanya mustahil bila Sultanah Shofia tidak melakukan hal yang besar.

 

Riwayat Sultanah Shofiatuddin

Nama kecilnya adalah Seri Alam, dilahirkan pada tahun 1612, anak pertama dari Sultan Iskandar Muda, pahlawan nasional asal Nanggroe Aceh Darussalam, hasil pernikahan dengan Puteri Sani binti Teungku di Bugeh Dajeng Mansur, keturunan dari Bugis, Sulawesi. (HM Zainuddin: 1961: 426).

Puteri Shofiatuddin selain cantik parasnya, juga dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan berpengetahuan luas. Harsja W. Bachtiar mencatat kemampuan komunikasi Shofia dalam berbagai bahasa, di antaranya: Bahasa Aceh, Melayu, Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu. (Aristides Katoppo: 1979: 74)

Sosok Sultanah digambarkan dalam kitab Bustan al-Salatin, Karya Nuruddin Ar-Raniri: “Bahwa adalah baginda itu beberapa sifat kepujian dan perangai yang kebajikan lagi takut akan Allah dan senantiasa sembahyang lima waktu dan membaca kitabullah dan menyuruh orang berbuat kebajikan dan melarang orang berbuat kejahatan seperti yang diturunkan Allah kepada Nabi kita Muhammad saw. Dan terlalu sangat adil perihal memeriksai dan menghukumkan segala hamba Allah. Maka daripada berkat daulat dan sa’adat duli yang maha mulia itu jadi banyaklah segala hamba Allah yang saleh dan sembahyang menuntut ilmu. Syahdan dan ialah yang sangat tawadhunya akan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dianugerahi Allah akan dia lama menjunjung khalifahnya dan pada masanyalah orang mendapat beberapa galian emas itu dan ialah yang mengeraskan syariat Nabi kita Muhammad saw.” (Bustan al-Salatin: ML 244: 33).

Ayah Shofia, kemudian menikahkannya dengan Iskandar Tsani, anak Sultan Ahmad Syah dari Pahang (Malaysia), yang kelak menjadi penguasa Aceh Darussalam (1637-1641) di usia 25 tahun–setelah kemangkatan mertuanya tanggal 29 Radjab 1046 H/27 Desember 1636 M. (Mohammad Said:  1961: 183). Namun sayang, kekuasaannya tidak berlangsung lama, hanya sekitar empat tahun tiga bulan enam hari, sultan yang bergelar Iskandar Tsani Alaidin Mughayat Syah ini meninggal dunia, pada hari senin, 6 Dzulqaidah 1050 H. (Bustan al-Salatin: ML 244: 22).

Sepeninggal mendiang suaminya pada tanggal 15 Februari 1641 (Mohammad Said:  1961: 194), Shofiatuddin Syah menjadi Sultanah Kesultanan Aceh Darussalam. Ia mendapatkan gelar Paduka Sri Sultanah Tajul Alam Shofiatuddin Syah Berdaulat Zhilllullah fi Al-Alam. (Bustan al-Salatin: ML 244: 33).

Arti nama Shofiatuddin sendiri, diambil dari bahasa Arab yang artinya kemurnian agama, gelarnya Tajul Alam berarti mahkota alam semesta (dalam bahasa Aceh Meukuta Alam) dan Zhillullah fi Al-Alam bermakna bayangan atau wakil Allah di muka bumi ini, sebuah konsep gelar yang bersifat teokratis. Kekuasaan Sultanah Shofiatuddin berakhir ketika dipanggil pulang ke rahmatullah pada tanggal 3 Sya’ban 1086 H atau bertepatan dengan 23 Oktober 1675 M. (Bustan al-Salatin: ML 244: 43).

 

Pencapaian Prestasi

Selama pemerintahan Sultanah Tajul Alam, Kesultanan Aceh Darussalam mengalami kedamaian, kemakmuran, bahkan dilukiskan dalam Bustan al-Salatin, sebagai “Negeri yang makmur dan makanan sangat murah, masyarakat sentosa dan mengikuti perintahnya,” (Bustan al-Salatin: ML 244: 33), suatu hal yang wajar bila rakyat mematuhi Ratunya, karena mereka tidak berat memikirkan kehidupan sehari-harinya.

Di masa Sultanah, ilmu pengetahuan berkembang pesat, bahkan muncul tokoh bertaraf internasional, sebut saja Syaikh Nuruddin Al-Raniri ulama dari golongan habaib yang sempat berkarir di Aceh selama tujuh tahun. Tokoh ini diangkat menjadi Syaikhul Islam (pejabat negara yang berkedudukan di bawah Sultan langsung), ketika Sultan Iskandar Tsani berkuasa dan dilanjutkan oleh Sultanah. Jabatan ini sangat strategis bahkan melebihi jabatan Qadhi Malik Al-‘Adil (Mufti) dan Orang Kaya Maharajalela Srimaharaja (Penasehat Sultan).

Ulama lokal lain yang turut mewarnai khazanah pengetahuan di era Sultanah adalah Syaikh Abdur Rauf al-Sinkili atau dikenal dengan sebutan Syaikh Kuala, yang mengabdikan dirinya untuk syi’ar Islam, setelah kepulangan dari menuntut ilmu di Jazirah Arab pada tahun 1584 H/1661 M. Kealiman Abdur Rauf, terutama dalam bidang agama, membuat Sultanah Shofiatuddin meliriknya untuk menjadi Syaikhul Islam, sebagaimana Ar-Raniri.  

Kedua orang ulama Syaikhul Islam tersebut, sangat didorong oleh Sultanah untuk membuat karya sebagai pedoman hidup masyarakat. Syaikh Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam, karya lain al-Raniri adalah Bustan al-salatin yang menyajikan sejarah Melayu Aceh dan menjadi referensi utama bagi penulis-penulis belakangan untuk menggambarkan sejarah Melayu-Nusantara.

Dan Syaikh Abdur Rauf Al-Sinkili turut menulis buku berjudul Mir’at al-Thullab fî Tasyil Ma’rifat al-Ahkâm al-Syar’iyyah li al-Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya, kitab ini memperkenalkan pendekatan fiqih muamalah yang berisikan tentang keagamaan, kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Selain kitab Mir’at al-Thullab, Syaikh Kuala juga membuat karya magnum opusnya dalam bidang tafsir al-Quran berjudul Tarjuman al-Mustafid yang sangat berpengaruh di Nusantara.

Hasjmi mengatakan, proses transfer pengetahuan juga melampaui daerah-daerah yang dikuasai oleh Kesultanan Aceh Darussalam, seperti di Ulakan (sekarang Sumatera Barat), Yan Kedah (Malaysia), Siak Sri Indrapura (Riau) dan lain-lain. (A. Hasjmi, 1977: 98-99). Kemajuan ilmu pengetahuan Aceh pada waktu itu, menempatkan Aceh sebagai poros pengetahuan agama di Nusantara.

Sultanah Shofiatuddin berhasil mewariskan pengetahuannya tentang tata kelola pemerintahan kepada puteri dan keturunannya, dan meneruskan kepemimpinan perempuan di Aceh Darussalam, dimulai oleh Sultanah Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675 M – 1678 M) yang mengambil alih kekuasaan ketika sang bunda telah tiada. Kemudian pada tahun 1678 tampuk kepemimpinan beralih kepada Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1678 M-1688 M); dan kemudian dilanjutkan oleh Sultanah Sri Ratu Kamalat Syah (1688-1699).

Uraian ini membuktikan bahwa tokoh perempuan dalam sejarah bangsa Indonesia banyak sekali dan belum terpublikasikan secara luas riwayat, karya, dan perjuangannya. Selama ini kita hanya mengetahui satu tokoh ‘Kartini’ saja, itu pun karena tahun kelahirannya diakui oleh negara sebagai hari emansipasi perempuan. Dominasi Kartini dalam sejarah perempuan Indonesia menenggelamkan tokoh-tokoh perempuan lainnya yang lebih jelas andilnya bagi perjalanan sejarah Indonesia.

Kita punya sosok Putri (Princess) Shofia yang nyata, bukan tokoh fiksi seperti film kartun yang ditayangkan pagi oleh stasiun televisi dan digemari oleh anak-anak kecil – sudah sepantasnya, kita meneladani, mengaktualisasikan nilai-nilai pengetahuan dalam kehidupan nyata kita di dunia ini, sebagaimana dilakukan oleh pejuang-pejuang perempuan bangsa Indonesia.

 

Ilyas Ichsani

(Pernah dimuat Koran Tangsel Pos)