Di antara problem utama umat Islam adalah penguasaan dan kepemilikan harta. Hampir semua sudut bumi yang dihuni umat Islam pastilah tidak hidup makmur. Meskipun mereka memiliki sumber daya alam yang kaya. Menurut Prof Hasan Langgulung, Allah Swt telah menyiapkan seluruh kebutuhan umat Islam di mana bumi yang mereka huni. Sebutlah Indonesia, umat Islamnya banyak yang masih hidup dalam kemiskinan. Solusi ekonomi syariah, dan perbankan syariah serta sejumlah bisnis syariah lainnya belum juga memberikan janji kemakmuran secara menyeluruh dan sistematis. Apalagi, Ekonomi Syari’ah mengalami “gangguan” dengan adanya gerakan Islam garis keras, seperti ISIS. Sesuatu yang ” berbau” syariah dicurigai sebagai agenda Islamic radicalism. Gangguan semacam ini, merupakan salah satu faktor penghambat ekonomi berbasis syariah, demikian Pandangan Ali Allawi dalam buku terbarunya: The Crisis of Islamic Civilization. Apakah fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Bahwa 15 tahun terakhir, Indonesia mengalami conservative turn. Yakni ada upaya pembalikan wajah Islam Indonesia yang toleran, damai, santun menjadi intoleran dan keras. Mudah- mudahan dengan The4th Indonesia Syaria Economic Festival, justeru Indonesia mengalami sebaliknya. Ekonomi Syariah semakin maju dan diminati umat. Apa yang salah? Apakah pendidikan Islam yang belum mengajarkan kurikulum ” kemakmuran”? Dalam artian, mereka belajar hanya sekedar mengerti dan memahami kitab suci. Ilmu pengetahuan keagamaan yang dimilikinya belum mengarahkan peserta didik untuk sampai menghasilkan ” kemakmuran”. Ataukah karena teologi jabariyah demikian menguat bagi masyarakat Islam Indonesia. Sehingga, mentalitas masyarakat agraris masih demikian kuat bercokol dalam “alam bawah sadar” kita? 1. Tantangan a. Prof Ali Allawi, dalam the Crisis of Islamic Civilization menulis bahwa tantangan kita sekarang ini adalah pemilikan umat Islam terhadap wealth, kekayaan. Masalah kita adalah kesajahteraan yang rendah. Rata-rata umat Islam, atau negara yang mendeklarasikan diri sebagai negara Islam itu miskin. Why? Negara-negara muslim dari Maroko sampai ke Merauke memiliki beberapa ciri utama. (a) Terbelakang, (b) tidak terpelajar. (c) Rendah demokrasi. Dan (d) minim penghormatan kepada perempuan. Dalam penelitian terakhir 19 megacities yang tidak toleran kepada perempuan, kota Kairo, Pakistan, Afghanistan, dan India masuk dalam kategori kota yang sering terjadi pelecehan seksual kepada kaum perempuan. Justeru London, Inggeris dan Kanada sebagai kota yang ramah perempuan. Sementara negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, masyarakatnya terpelajar, civilized. Sejahtera, tidak banyak pengangguran. Dan sehat. Panjang umur. Menghormati hak-hak perempuan. Demokratis. Padahal, kita kaya akan value dan nilai-nilai luhur. Tetapi kita tidak memasukkan value tersebut kedalam sebuah sistem kehidupan. Itulah kritik Prof Jasser Auda dalam buku terbarunya, Maqashid al Syariah as Philosophy of Islamic Law. A system approach. Tantangan kita adalah membangun sistem kehidupan dan ekonomi yang kuat. b. Apakah kita sepakat memakai nomenklatur Islamic Finace atau Islamic Economy. Ekonomi Islam atau ekonomi syariah. Sebab, sekarang ini sedang menyeruak Islamic radicalisme. Islam radikal cukup mengganggu. Ini tantangan ke depannya. Saya punya cerita. Di Sydney Air port, terdapat toko buku. Ada banyak koleksi buku yang dijual. Begitu bertanya tentang buku-buku agama, mereka kebingungan. Dan heran. Religion? Barangkali mereka tidak terlalu butuh tentang topik ini. Agama formal sudah ditinggalkan karena tidak mencerahkan. Tidak mendamaikan. Beragama malah tambah sulit, tidak toleran. Tidak humanis. Barangkali mereka berpikir, “Tuhan terlalu jauh untuk digapai”. Sekarang ini, di dunia nyata, kita menghadapi kehidupan demikian dinamis. Barangkali di barat masih berkembang para pemikir bebas. Barangkali mereka menggugat agama-agama formal yang menjadi biang pertengkaran kemanusiaan. kalau agama benar, dan Tuhan ada mengapa masih terjadi bencana. Mengapa masih terjadi ketidakadilan sosial. Mengapa masih banyak masyarakat miskin. Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, agama harus hadir menyapa masyarakat yang rasional dan empiris ini. 2. Isu-isu krusial ekonomi Syariah atau Perbankan syariah, antara lain a. Dari sisi market share, pangsa pasar masih sangat kecil, masih 4,9 persen per mei 2015 dibanding bank-bank konvensional. Bank-bank Syariah baru mengelola dana sekitar 240 T dari 2.000 T. Konon, nasabah bank konvensional yang tertarik kepada bank-bank syariah hanya menyentuh angka 14%. Sangat sedikit dibanding jumlah populasi umat Islam yang melimpah di Indonesia. b. Persoalan Sumber Daya Manusia. Di mana SDM di Bank-bank syariah masih mayoritas masih dari latar belakang SDM bank-bank konvensional. c. Regulasi ekonomi syariah dan turunannya masih sangat sedikit, dan belum maksimalnya sinkronisasi kebijakan antar lembaga pemerintah. Yang sudah ada sekarang adalah Undang-Undang SBSN nomor 19 tahun 2008 dan UU nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. d. Masih kurangnya sosialisasi. Banyak orang yang belum mengetahui sistem ekonomi syariah, termasuk pegawai pegawainya. Mudharabah, takaful, musyarakah mutanaqishah MMQ, dst. 3. Peluang a. Indonesia adalah masyarakat muslim terbesar dunia, dan nomor tiga negara demokrasi terbesar di dunia. Tidak terlepas dari kontribusi PTKI dan pondok pesantren serta madrasah dalam menambah jumlah middle class muslim. Perlu kurikulum ekonomi syariah yang menjadi flatform bersama. Sehingga alumni kita bisa berkualitas dan diakui oleh pasar kerja. Kemenag sudah mengeluarkan 101 prodi ekonomi syariah, mualamat, perbankan syariah, dst. b. Kita ini umat Muslim terbesar di dunia. Tetapi market share per Mei 2015 baru menyentuh angka 4,9 persen, sekitar 240 T dari 2.000 T pangsa pasar, yang dikelola lembaga keuangan. Masih sangat jauh dari angka ideal. Apa yang harus kita kerjakan. Kita harus melakukan quantum leap. Lompatan yang jauh agar bisa mendicipi market share tadi. Barangkali dengan paket ekonomi jilid lima, ada angin segar terutama kebijakan deregulasi parbankan syariah. Bagaimana masyarakat bisa lebih mudah untuk mengakses bank-bank syariah. c. Prof Greg Feely (ed.), Expressing Islam, Religious Life and Politics in Indonesia. Pada akhir buku tersebut terdapat tiga artikel yang membahas tentang Islamic Economy, atau ekonomi syariah. Termasuk laporan mengenai perkembangan Baitul Mal wa tamwil di Pondok- pondok Pesantren di Jawa Timur. Sebab, Bank-bakn konvensional lebih tertarik mengurus kelompok jelita. Sedang Bank-Bank syariah, apalagi BMT pastilah mengurus rakyat Jelata. Padahal, tugas kita adalah mensejahterakan yang jelita dan yang jelata. 4. Karl Kruszelnicki, House of Karls, 2014. Ada bab yang membahas Bank Robbery, perampokan bank. Dan pembahasan Greed is not good. Tamak itu tidak baik. Secara moral, filosof Yunani, Plato dan Aristoteles sudah menegaskan keburukan sifat tamak itu. Kritik yang lebih komprehensif dan solutif adalah pandanga Prof Muhammad Yunus dalam buku teranyarnya: A World of Three Zeros, the new economics of Zero Poverty, Zero Unemployment, Zero net carbon emissions, 2017. Muhammad Yunus melihat mesin ekonomi kapitalis sudah pecah dan ambruk. Ditandai dengan merajalelanya ketidakadilan ekonomi, masifnya angka pengangguran, dan destruksi lingkungan hidup. We need a new economic system that unleashes as a creative force just as powerful as self- interest. Pada bab pertama bukunya, Yunus langsung menohok The Failures of Capitalism. Kegagalan- kegagalan kapitalisme. Saya pernah mengikuti acara pada salah satu TV Nasional yang bertopik Membangun Peradaban Ekonomi Syari’ah ( tanggal 4 Agustus 2017). Ada beberapa tokoh nasional yang mengajukan pandangan dan pikirannya. Tokoh- tokoh nasional dimaksud, antara lain Dr Muhammad Syafii Antonio, Prof Komaruddin Hidayat, Prof Mudjia Rahardjo. Saya sarikan perbincangan menarik tersebut sebagai berikut: 1. Tantangan kita, bagaimana membumikan gagasan yang baik ini. Bagaimana Pemuda Islam memiliki mental entrepreneurship. Sebab, kita tidak pernah mengalami era industri. Kekayaan alam kita yang melimpah belum mendatangkan kekayaan bagi warganya. Pemdidikan kita kurang mengembangkan skill, dan mental entrepreneurship. Saya pesimis, mata kuliahnya masih happy pada normatif. Dan dosen pengajarnya, bukan praktisi ekonomi. Meskipun mereka memiliki gelar prof dan doktor, tetapi bukan praktisi. Tantangan kita berikutnya adalah masyarakat kita belum syariah. Ada Kyai bertanya, Bank Syariah itu bunganya berapa? Dulu masa Agricultural, siapa yang tanahnya luas, disegani. Sekarang eranya tidak lagi. Maka pemenangnya Bill Gates. Steve Jobs. Lompatannya sangat jauh. Ini era milenia….lompatannya sangat jauh. (Prof Komaruddin Hidayat). 2. Bagaimana mengajak praktisi ekonomi syariah ini untuk mengajar di kampus? 90 persen pegawai di Bank Syariah tidak berlatar belakang ekonomi syariah. Bagaimana kualitas pendidikan tinggi supaya bisa mengenal syariah Islam. Berapa tahun lagi agar mimpi ini bisa terwujud. Jawabannya, seberapa keras dan kuat kita bergerak. Perlu market delivery.Tourisme haji and umrah bisnis. Industri farmasi.Creative industry. Harus kuat dari segi tafsir, hadis, maqashid syariah. Agar anak anak kita berorientasi ke sana. Peraturan Menterinya dipermudah. Peran media harus terus menggaungkan untuk terus bergulir. Endingnya, Indonesia bisa menjadi rule model dunia ( Dr Muhammad Syafii Antonio). Beberapa tawaran solutif, sebagai berikut: 1. Mengajak dan memperbanyak para praktisi dan kalangan profesional untuk masuk kampus. Hal ini dipermudah dengan kebijakan Prof Muhammad Nasir untuk pemberian NIDK, Nomor Induk Dosen Khusus bagi kaum profesional dan praktisi yang memilih profedi dosen. 2. Merombak kurikulum Ekonomi Syari’ah dengan konsep 2 U and 2 I, two years in university, dan two years in industry. Kurikulum tersebut mengakomodasi kebijakan pendidikan dan ristek Malaysia. Bahwa untuk merespon Era revolusi Industri Generasi ke empat, Malaysia memberlakukan kebijakan pendidikan tinggi 2 U and 2 i di atas. Mahasiswa dua tahun duduk di bangku kuliah untuk menerima dan mempelajari teori- teori keilmuan. Dan dua tahun pula terjun di dunia industri untuk memperkuat teori- teori yang mereka pelajari sambil mereka menambah skill dan kecakapan hidup. 3. Kemenag harus mendorong riset- riset unggulan dan riset kolaborasi bidang ekonomi syariah dan segala derivasinya. Riset ekonomi syariah dan segala turunannya harus tercermin dalam ARKAN ( Agenda Riset Keagamaan Nasional). 4. Memperkuat Asosiasi dan atau Konsosrsium Keilmuan bidang Ekonomi Syari’ah yang selama ini sudah terbentuk. Demikian. Semoga sukses. Dan Indonesia makmur.

 

Sumber Blog : http://afikrizain.blogspot.co.id