Auditorium KH. Hasjim Adnan, (28/12/2018)

Seminar Internasional di penghujung tahun 2018, dihadiri oleh Narasumber, Prof. Dr. H. Harapandi Dahri (Pensyarah Kollej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan, Brunei Darussalam). Dalam Makalahnya beliau mengambil tema: “Fungsi Kitab Turats dalam Perkembangan Islam di Asia Tenggara”.

Kegiatan ini adalah rangkaian kerjasama STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta dengan Kollej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan, Brunei Darussalam, yang akan dilanjutkan dengan diskusi dosen dan mahasiswa KUPU SB yang akan datang dari Brunei Darussalam pada tanggal 7 Januari 2019 yang akan datang ke Kampus STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta.

Turats secara literal, berarti warisan atau peninggalan (heritage, legacy). Sedangkan secara istilah adalah Kitab Kuning keagamaan berbahasa Arab, aksara Arab atau Jawi (Arab Melayu/Bahasa Nusantara), karya ulama salaf atau ulama zaman dahulu, yang dicetak dengan kertas berwarna kuning.

Kitab Turats Dulu & Kini

No

Kitab Turats Dahulu No

Kitab Turats Masa Kini

1. Kitab kuning/gundul 1. Nama penulis sudah jelas
2. Kertas dan cetakan tidak menarik 2. Kertas lux sebagian berwarna
3. Tidak menggunakan harakat 3. Hard cover
4. Tidak menuliskan nama pengarang 4. Penerbit dan tempat terbit jelas
5. Dimulai dengan basmalah & hamdalah 5. Nomor halaman jelas
6. Dalam satu bundel terdapat beberapa naskah 6. Dalam satu bundel kitab hanya terdapat satu naskah
7. Pengarang tetap dalam kesucian
8. Shalat sunnah sebelum menulis

Proses kewujudan Kitab Turats

  1. Proses Pembentukan (formulation) yang diwarnai asimilasi dan akulturasi, konfrontasi hingga harmonisasi,
  2. Proses Pemeliharaan (conservation) melalui upaya edukasi, kodifikasi, dan transliterasi serta,
  3. Proses Pengembangan (development) berupa digitalisasi dan pengembangan jaringan atau koneksi.

Fungsi Kitab Turats

  • Fasilitator; para da’i masa awal menjadikan kitab turats sebagai rujukan utama (Islam Jawa, Sumatera) dipengaruhi oleh kitab2 karya ulama Timur Tengah. Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abd al-Rauf al-Singkili, Yusuf al-Makassari al-Bantani, Abd al-Samad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan lainnya yang kesemuanya telah hadir dengan berbagai karya kitab-kitab turats.
  • Mediator; yang ditransmisikan dari pusat-pusat keislaman mancanegara maupun yang diproduksi secara genuine sebagai hasil karya para tokoh Islam Melayu maka pada puncak tahapan ini dapat dikatakan telah “berhasil disepakati” suatu formulasi keberislaman alam Melayu yang secara ideologis beraliran Ahlus Sunnah Waljama’ah dengan pemahaman dan praktek fiqh yang mengakomodir keempat mazhab: Malikiyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Syafi’iyah.
  • Konservator; yaitu selain sebagai pedoman tata cara keberagamaan, Kitab Turats difungsikan juga oleh berbagai kalangan umat Islam Melayu, terutama sekali kalangan pesantren, sebagai referensi nilai universal dalam mensikapi segala tantangan kehidupan. Sebagaimana ditegaskan Affandi (2012) bahwa ketika Kitab Turats digunakan secara permanen, dari generasi ke generasi, sebagai sumber bacaan utama bagi masyarakat pesantren yang cukup luas, maka sebuah proses pemeliharaan tradisi yang unik itu tengah berlangsung.