Auditorium KH. Hasjim Adnan, (29/12/2018)

Acara Pembekalan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Tahun Akademik 2018-2019, dibuka secara resmi oleh Ketua STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta, Bapak Dr. Muhammad Zain, dan dihadiri oleh sivitas akademika STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta, di antaranya: Wakil Ketua I (TGKH. Muslihan Habib, SS, MA), Wakil II (A. Misbakhun Najakhi, M.Pd), Ketua Prodi. PAI (Ilyas Ichsani, M.Hum), Ketua Prodi. KPI, (Muhadi, MA), Ketua Prodi. AS (Husnawadi, MA), Ketua Prodi. PGMI (Aida Maqbulah), Ketua Prodi. PIAUD (Dr. M. Jafar Anwar, M.Si), Ketua Prodi. HES (Dr. H. Syafruddin, MA), dan 180 Praktikan PPL.

Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Zain menuturkan bahwa saat ini dunia menghadapi era Revolusi Industri yang keempat (4.0/Four Point Zero). Pada masa kini, manusia kehilangan konsentrasi, susah focus (hyper Focus), banyak gangguan-gangguan, terutama dari teknologi Handphone/HP.

Di dalam HP masa kini terdapat banyak menu, seperti: Whatsapp, Instagram, Twitter, Aplikasi-aplikasi dan sebagainya. Semua manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi selalu ditemani oleh HP.

Revolusi generasi keempat (4.0), adalah kelanjutan dari generasi-generasi revolusi besar di dunia ini. Revolusi generasi pertama dimulai di Perancis dengan ditandai oleh keruntuhan Monarki Absolut dan ditemukannya mesin uap oleh James Watt (1769), kemudian dipraktikkan pada sebuah kapal oleh Robert Fulton (1814), sehingga manusia bisa melawan cuaca. Sebelumnya kapal-kapal tradisional yang hanya mengandalkan layar sebagai pendorong arah angin juga sudah dikenal di Nusantara, seperti Phinisi di Bugis, dan Sandeq (perahu bercadik) dari Mandar.

Revolusi generasi kedua, melanjutkan pengembangan teknologi yang ditemukan sebelumnya. Di era ini, manusia dihadapkan dengan mesin-mesin, industri manufaktur (pabrik). Dengan pabrik dan mesin ini mengubah peta dunia – bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan negara Eropa lainnya, berlomba-lomba mencari sumber daya baru di belahan dunia ini dengan melakukan penjelajahan mengarungi lautan.

Sedangkan revolusi industri generasi ketiga, sistem elektronika (listrik) menjadikan dunia bercahaya, lampu-lampu menghiasi wajah bumi, pengeras suara dan lain-lain semuanya berasaskan pada pengembangan teknologi kelistrikan.

Kini kita memasuki era generasi industri yang keempat, yang dicirikan oleh terkoneksinya seluruh sudut dunia dengan teknologi internet (hampir 2/3 penduduk bumi) dan dari 250 juta penduduk Indonesia, hanya 5 juta orang saja yang tidak mempunyai ponsel, bahkan banyak orang yang kini memiliki dua ponsel.

Dengan kemajuan teknologi dan segala tantangannya, sarjana di era milenial diharapkan menjadi tokoh-tokoh revolusioner di masa mendatang. Menurut Doktor Zain, ada dua syarat untuk mencapai itu, yaitu banyak membaca buku (literasi) dan melawan kemalasan untuk mengejar ketertinggalan negara-negara besar, seperti Korea Selatan yang berhasil tinggal landas selama 50 tahun dari era keterpurukan negaranya dibandingkan dengan Jepang negeri tetangganya yang terlebih dahulu mengalami kemajuan.

Dengan demikian, para Praktikan Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta diharapkan menjadi penggagas perubahan ke arah kemajuan bangsa Indonesia.